Menguatkan Iman

November 24th, 2008 by pribadiunggul

20 sarana yang bisa kita lakukan untuk menguatkan iman, yaitu sebagai berikut.

1. Perbanyaklah menyimak ayat-ayat Al-Quran

Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai cahaya dan petunjuk, juga sebagai obat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra’: 82).

Kata Ibnu Qayyim, yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an, memikirkan dan memahami apa yang dimaksud dan mengapa ia diturunkan. Engkau harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengobati hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh.”

2. Rasakan keagungan Allah seperti yang digambarkan Al-Qur’an dan Sunnah

Al-Qur’an dan Sunnah banyak sekali mengungkap keagungan Allah swt. Seorang muslim yang ketika dihadapkan dengan keagungan Allah, hatinya akan bergetar dan jiwanya akan tunduk. Kekhusukan akan hadir mengisi relung-relung hatinya.

Resapi betapa agungnya Allah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, yang memiliki nama-nama yang baik (asma’ul husna). Dialah Al-’Azhim, Al-Muhaimin, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Qawiyyu, Al-Qahhar, Al-Kabiir, Al-Muth’ali. Dia yang menciptakan segala sesuatu dan hanya kepada-Nya lah kita kembali.

Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut ayat ini, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi dan seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (Az-Zumar: 67)

3. Carilah ilmu syar’i

Sebab, Al-Qur’an berkata, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya ialah orang-orang yang berilmu.” (Fathir: 28). Karenanya, dalamilah ilmu-ilmu yang mengantarkan kita pada rasa takut kepada Allah.

Allah berfirman, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9). Orang yang tahu tentang hakikat penciptaan manusia, tahu tentang syariat yang diturunkan Allah sebagai tata cara hidup manusia, dan tahu ke mana tujuan akhir hidup manusia, tentu akan lebih khusyuk hatinya dalam ibadah dan kuat imannya dalam aneka gelombang ujian ketimbang orang yang jahil.

Orang yang tahu tentang apa yang halal dan haram, tentu lebih bisa menjaga diri daripada orang yang tidak tahu. Orang yang tahu bagaiman dahsyatnya siksa neraka, tentu akan lebih khusyuk. Orang yang tidak tahu bagaimana nikmatnya surga, tentu tidak akan pernah punya rasa rindu untuk meraihnya.

4. Mengikutilah halaqah dzikir
Suatu hari Abu Bakar mengunjungi Hanzhalah. “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah berbuat munafik.” Abu Bakar menanyakan apa sebabnya. Kata Hanzhalah, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw., beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga yang seakan-akan kami bisa melihat dengan mata kepala sendiri. Lalu setelah kami pergi dari sisi Rasulullah saw. kami pun disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dankehidupan, lalu kami pun banyak lupa.”

Lantas keduanya mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Kata Rasulullah, “Demi jiwaku yang ada di dalam genggaman-Nya, andaikata kamu sekalian tetap seperti keadaanmu di sisiku dan di dalam dzikir, tentu para malaikat akan menyalami kamu di atas kasurmu dan tatkala kamu dalam perjalanan. Tetapi, wahai Hanzhalah, sa’atah, sa’atan, sa’atan.” (Shahih Muslim no. 2750)

Begitulah majelis dzikir. Bisa menambah bobot iman kita. Makanya para sahabat sangat bersemangat mengadakan pertemuan halaqah dzikir. “Duduklah besama kami untuk mengimani hari kiamat,” begitu ajak Muadz bin Jabal. Di halaqah itu, kita bisa melaksanakan hal-hal yang diwajibkan Allah kepada kita, membaca Al-Qur’an, membaca hadits, atau mengkaji ilmu pengetahuan lainnya.

5. Perbanyaklah amal shalih

Suatu ketika Rasulullah saw. bertanya, “Siapa di antara kalian yang berpuasa di hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, “Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah amal-amal itu menyatu dalam diri seseorang malainkan dia akan masuk surga.” (Muslim)

Begitulah seorang mukmin yang shaddiq (sejati), begitu antusias menggunakan setiap kesempatan untuk memperbanyak amal shalih. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan surga. “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (Al-Hadid: 21)

Begitulah mereka. Sehingga keadaan mereka seperti yang digambarkan Allah swt., “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir-akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah). Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat: 17-19)

Banyak beramal shalih, akan menguatkan iman kita. Jika kita kontinu dengan amal-amal shalih, Allah akan mencintai kita. Dalam sebuah hadits qudsy, Rasulullah saw. menerangkan bahwa Allah berfirman, “Hamba-Ku senantiasa bertaqarrub kepada-Ku dengan mengerjakan nafilah sehingga Aku mencintainya.” (Shahih Bukhari no. 6137)

6. Lakukan berbagai macam ibadah

Ibadah memiliki banyak ragamnya. Ada ibadah fisik seperti puasa, ibadah materi seperti zakat, ibadah lisan seperti doa dan dzikir. Ada juga ibadah yang yang memadukan semuanya seperti haji. Semua ragam ibadah itu sangat bermanfaat untuk menyembuhkan lemah iman kita.

Puasa membuat kita khusyu’ dan mempertebal rasa muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Shalat rawatib dapat menyempurnakan amal-amal wajib kita kurang sempurna kualitasnya. Berinfak mengikis sifat bakhil dan penyakit hubbud-dunya. Tahajjud menambah kekuatan.

Banyak melakukan berbagai macam ibadah bukan hanya membuat baju iman kita makin baru dan cemerlang, tapi juga menyediakan bagi kita begitu banyak pintu untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menafkahi dua istri di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah baik.’ Lalu barangsiapa yang menjadi orang yang banyak mendirikan shalat, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa menjadi orang yang banyak berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Barangsiapa menjadi orang yang banyak melakukan puasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-rayyan. Barangsiapa menjadi orang yang banyak mengeluarkan sedekah, maka dia dipanggil dari pintu sedekah.” (Bukhari no. 1798)

7. Hadirkan perasaan takut mati dalam keadaan su’ul khatimah

Rasa takut su’ul khatimah akan mendorong kita untuk taat dan senantiasa menjaga iman kita. Penyebab su’ul khatimah adalah lemahnya iman menenggelamkan diri kita ke dalam jurang kedurhakaan. Sehingga, ketika nyawa kita dicabut oleh malaikat Izrail, lidah kita tidak mampu mengucapkan kalimat laa ilaha illallah di hembusan nafas terakhir.

8. Banyak-banyaklah ingat mati

Rasulullah saw. bersabda, “Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur karena hal itu bisa melunakan hati, membuat mata menangism mengingatkan hari akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami’ no. 4584)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Banyak-banyaklah mengingat penebas kelezatan-kelezatan, yakni kematian.” (Tirmidzi no. 230)

Mengingat-ingat mati bisa mendorong kita untuk menghindari diri dari berbuat durhaka kepada Allah; dan dapat melunakkan hati kita yang keras. Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, niscaya akan mengingatkanmu terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami’ no. 4109)

Melihat orang sakit yang sedang sakaratul maut sangat memberi bekas. Saat berziarah kubur, bayangkan kondisi keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rusak membusuk. Ulat memakan daging, isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.

Bayangan seperti itu jika membekas di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin beribadah.

9. Mengingat-ingat dahsyatnya keadaan di hari akhirat

Ada beberapa surat yang menceritakan kedahsyatan hari kiamat. Misalnya, surah Qaf, Al-Waqi’ah, Al-Qiyamah, Al-Mursalat, An-Naba, Al-Muththaffifin, dan At-Takwir. Begitu juga hadits-hadits Rasulullah saw.

Dengan membacanya, mata hati kita akan terbuka. Seakan-akan kita menyaksikan semua itu dan hadir di pemandangan yang dahsyat itu. Semua pengetahuan kita tentang kejadian hari kiamat, hari kebangkitan, berkumpul di mahsyar, tentang syafa’at Rasulullah saw., hisab, pahala, qishas, timbangan, jembatan, tempat tinggal yang kekal di surga atau neraka; semua itu menambah tebal iman kita.

10. Berinteraksi dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan fenomena alam

Aisyah pernah berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat orang-orang jika mereka melihat awan, maka mereka gembira karena berharap turun hujan. Namun aku melihat engkau jika engkau melihat awan, aku tahu ketidaksukaan di wajahmu.” Rasulullah saw. menjawab, “Wahai Aisyah, aku tidak merasa aman jika di situ ada adzab. Sebab ada suatu kaum yang pernah diadzab dikarenakan angin, dan ada suatu kaum yang melihat adzab seraya berkata, ‘Ini adalah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’.” (Muslim no. 899)

Begitulah Rasulullah saw. berinteraksi dengan fenomena alam. Bahkan, jika melihat gerhana, terlihat raut takut di wajah beliau. Kata Abu Musa, “Matahari pernah gerhana, lalu Rasulullah saw. berdiri dalam keadaan ketakutan. Beliau takut karena gerhana itu merupakan tanda kiamat.”

11. Berdzikirlah yang banyak

Melalaikan dzikirulah adalah kematian hati. Tubuh kita adalah kuburan sebelum kita terbujur di kubur. Ruh kita terpenjara. Tidak bisa kembali. Karena itu, orang yang ingin mengobati imannya yang lemah, harus memperbanyak dzikirullah. “Dan ingatlah Rabb-mu jika kamu lupa.” (Al-Kahfi: 24) “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lha hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d: 28)

Ibnu Qayim berkata, “Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak bisa mencair kecuali dengan dzikrullah. Maka seseorang harus mengobati kekerasan hatinya dengan dzikrullah.”

12. Perbanyaklah munajat kepada Allah dan pasrah kepada-Nya

Seseorang selagi banyak pasrah dan tunduk, niscaya akan lebih dekat dengan Allah. Sabda Rasulullah saw., “Saat seseorang paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa.” (Muslim no. 428)

Seseorang selagi mau bermunajat kepada Allah dengan ucapan yang mencerminkan ketundukan dan kepasrahan, tentu imannya semakin kuat di hatinya. Semakin menampakan kehinaan dan kerendahan diri kepada Allah, semakin kuat iman kita. Semakin banyak berharap dan meminta kepada Allah, semakin kuat iman kita kepada Allah swt.

13. Tinggalkan angan-angan yang muluk-muluk

Ini penting untuk meningkatkan iman. Sebab, hakikat dunia hanya sesaat saja. Banyak berangan-angan hanyalah memenjara diri dan memupuk perasaan hubbud-dunya. Padahal, hidup di dunia hanyalah sesaat saja.

Allah swt. berfirman, “Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka adzab yang telah dijanjikan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (Asy-Syu’ara: 205-207)

“Seakan-akan mereka tidak pernah diam (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari.” (Yunus: 45)

14. Memikirkan kehinaan dunia

Hati seseorang tergantung pada isi kepalanya. Apa yang dipikirkannya, itulah orientasi hidupnya. Jika di benaknya dunia adalah segala-galanya, maka hidupnya akan diarahkan untuk memperolehnya. Cinta dunia sebangun dengan takut mati. Dan kata Allah swt., “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran)

Karena itu pikirkanlah bawa dunia itu hina. Kata Rasulullah saw., “Sesungguhnya makanan anak keturunan Adam itu bisa dijadikan perumpamaan bagi dunia. Maka lihatlah apa yang keluar dari diri anak keturunan Adam, dan sesungguhnya rempah-rempah serta lemaknya sudah bisa diketahui akan menjadi apakah ia.” (Thabrani)

Dengan memikirkan bahwa dunia hanya seperti itu, pikiran kita akan mencari orientasi ke hal yang lebih tinggi: surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.

15. Mengagungkan hal-hal yang terhormat di sisi Allah

“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu dari ketakwaan hati.” (Al-Hajj: 32)

“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al-Hajj: 30)

Hurumatullah adalah hak-hak Allah yang ada di diri manusia, tempat, atau waktu tertentu. Yang termasuk hurumatullah, misalnya, lelaki pilihan Muhammad bin Abdullah, Rasulullah saw.; tempat-tempat suci (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Al-Aqha), dan waktu-waktu tertentu seperti bulan-bulan haram.

Yang juga termasuk hurumatullah adalah tidak menyepelekan dosa-dosa kecil. Sebab, banyak manusia binasa karena mereka menganggap ringan dosa-dosa kecil. Kata Rasulullah saw., “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena dosa-dosa kecil itu bisa berhimpun pada diri seseornag hingga ia bisa membinasakan dirinya.”

16. Menguatkan sikap al-wala’ wal-bara’

Al-wala’ adalah saling tolong menolong dan pemberian loyalitas kepada sesama muslim. Sedangkan wal-bara adalah berlepas diri dan rasa memusuhi kekafiran. Jika terbalik, kita benci kepada muslim dan amat bergantung pada musuh-musuh Allah, tentu keadaan ini petanda iman kita sangat lemah.

Memurnikan loyalitas hanya kepada Alah, Rasul, dan orang-orang beriman adalah hal yang bisa menghidupkan iman di dalam hati kita.

17. Bersikap tawadhu

Rasulullah saw. bersabda, “Merendahkan diri termasuk bagian dari iman.” (Ibnu Majah no. 4118)

Rasulullah juga berkata, “Barangsiapa menanggalkan pakaian karena merendahkan diri kepada Allah padahal dia mampu mengenakannya, maka Allah akan memanggilnya pada hati kiamat bersama para pemimpin makhluk, sehingga dia diberi kebebasan memilih di antara pakaian-pakaian iman mana yang dikehendaki untuk dikenakannya.” (Tirmidzi no. 2481)

Maka tak heran jika baju yang dikenakan Abdurrahman bin Auf –sahabat yang kaya—tidak beda dengan yang dikenakan para budak yang dimilikinya.

18. Perbanyak amalan hati

Hati akan hidup jika ada rasa mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap bertemu dengan-Nya, berbaik sangka dan ridha dengan semua takdir yang ditetapkan-Nya. Hati juga akan penuh dengan iman jika diisi dengan perasaan syukur dan taubat kepada-Nya. Amalan-amalan hati seperti itu akan menghadirkan rasa khusyuk, zuhud, wara’, dan mawas diri. Inilah halawatul iman (manisnya iman)

19. Sering menghisab diri

Allah berfirman, “Hai orang-ornag yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)

Umar bin Khattab r.a. berwasiat, “Hisablah dirimu sekalian sebelum kamu dihisab.” Selagi waktu kita masih longgar, hitung-hitunglah bekal kita untuk hari akhirat. Apakah sudah cukup untuk mendapat ampunan dan surga dari Allah swt.? Sungguh ini sarana yang efektif untuk memperbaharui iman yang ada di dalam diri kita.

20. Berdoa kepada Allah agar diberi ketetapan iman

Perbanyaklah doa. Sebab, doa adalah kekuatan yang luar biasa yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. berwasiat, “Iman itu dijadikan di dalam diri salah seorang di antara kamu bagaikan pakaian yang dijadikan, maka memohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hatimu.”

Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada di dalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya dan upaya kami kecuali dengan pertolonganMu. (disarikan dari Dakwatuna.com)

semoga menjadi nasihat pribadi…

Mencari hati Yang Hilang

August 29th, 2008 by pribadiunggul

Ntah sama atau tidak? apa yang senantiasa saya rasakan
dengan yang orang lain rasakan… sejak saya masih kecil dikala memori ini mulai mencoba
mengingat…hingga hampir satu seperempat abad usia saya kini…Bagi saya ada satu perasaan yang sama dan tidak
pernah berubah tiap kali meyambut kedatangannya…

Memutar kembali memori lama akan mengingatkan kepada kita,
betapa sebetulnya fitrah itu pernah melekat kuat di dalam hati-hati kita. Saya
ingat betul perasaan itu pernah mlekat pada diri ‘si kecil’ ini. Kala itu
usia mungkin belum genap tujuh tahun, karena saya ingat waktu itu masih duduk
di kelas 1 SD.. disaat ibu dan ayah mencoba menanamkan manisnya bersabar, saat yang sama batu ujian kesabaran itu datang dari luar. hari itu disekolah kedatangan promosi produk minuman susu
yang rasanya tentu jauh lebih manis di lidah..tpi ntah kenapa saat itu hati ‘sikecil’ ini
memilih untuk pulang dan tidak mengikuti promosi susu tadi, padahal klaupun saat itu
ikut tentu tak mengapa, tak ada ayah dan ibu yang melihat, toh usiapun belum bisa dikatakan mukallaf, dan  yang memilih langkah itu tidak hanya satu dua orang,
tapi cukup banyak.

memutar rekaman memori itu, menjadi Yakinlah saya betapa fitrah itu pernah
melekat dalam diri. tentu tak hanya saya yang pernah mengalami nuansa hati seperti itu. Nuansa dalam diri kecil kita yang begitu ingin ikut memunaikan kewajiban seperti apa yang dilakukan kakakanya. Bahwa pernah ada suatu masa dari kita, hati yang bersih dan bening jauh dari hasad hati …tapi ntah kini ia ada dimana…

 
Kalaulah diizinkan disampaikan di bulan ramadhan tahun ini, ingin sekali mencoba mencari hati ‘sikecil’ yang dulu pernah singgah dalm diri
ini…

 

Selamat mencari hati-hati “kecilnya” kawan-kawan…ramadhan menjadi momentum yang tepat menemukannya…mohon maaf lahir batin

Ketika Hati bertemu Hati……..

June 16th, 2008 by pribadiunggul

Acap kali melihat ikhwah yang menikah, senantiasa menemukan
suasana yang sama. Keduanya memburatkan wajah berseri, terlihat senyum tersipu
malu, ntah apa yang ada difikiran mereka? Nampak sekali bagaimana ‘grogi’ nya
mereka. Wajar…! menyentuh tangan lawan jenisnya saja tak pernah, kecuali
mahramnya. Kini! jangankan menyentuh, lebih dari itu pun boleh. Mencoba membayangkan
bagaimana perasaan seorang akhwat  ketika
ia harus memperlihatkan rambutnya yang selama ini ia tutup rapat-rapat agar tak
terlihat oleh yang lain, lalu dihadapan seorang laki-laki tak ‘dikenal’ yang
tiba-tiba ada dikamarnya, seorang laki-laki yang dapat enaknya saja, yang tidak
mengasuhnya dari kecil, juga tidak membiayai hidupnya sejak kecil, tapi
kemudian melihat salah satu mahkotanya itu. Sulit rasanya membaca kondisi hati,
ketika bercampurnya perasaan dalam hati keduanya. Tapi itulah seninya……itulah
nikmatnya…, sehinga bila melihatnya engkau langsung
ingat Allah, ucapannya akan
menambah
amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat

 

(khiyarukum man dzakkarakum
billahi ru’yatuh wa zada fi’amalikum mantiquh wa raggahabakum fil akhirati
‘amaluh)

Barakallah untuk sahabat adin yang menikah kemarin, juga sahabat-sahabat
lain yang telah menunaikannya………

“lihat gedung itu akh ! hari ini di sana ada denyut dakwah”

June 16th, 2008 by pribadiunggul

kali pertama
melihat gedung itu! biasa saja, tak mengalir rasa juga tak tergugah hati karenanya.
Tegaknya di Kota Bandung,
seolah sekedar symbol yang membanggakan, bukan karena keberadaanya, tapi…
mungkin hanya karena kemegahannya semata. Seiring laju waktu ditambah lingkup
yang merubah nalar,  tersadar diri akan
arti penting keberadaanya, bahwa ternyata kebodohan, kemiskinan, pengangguran,
serta aktivitas penyelamatan lain dapat lahir dari kemegahan gedung itu.

Kesadaran ini
pun seiring dengan kefahaman kenapa harus masuk kedalamnya…konon katanya di era
80-an hingga 90-an awal, melirik untuk masuk kedalamnya pun terasa jauh, apalagi
terbayang ada didalamnya. Tapi hari ini dibeberapa daerah, gedung-gedung
semacam itu sudah ada yang kita buka pintunya dan kemudian masuk kedalamnya. Jika
dulu hanya sebatas di depan pagar terluar, berteriak berharap didengar oleh
penghuni gedung, maka saat ini dibeberapa gedung, kita telah menjadi salah satu
penghuninya.

Teringat kata-kata
seorang teman “lihat gedung itu akh ! hari ini di sana ada denyut dakwah” kata-kata menarik dari penggalan kalimat itu
adalah “denyut dakwah”. Sering orang menyamakan orientasi berdasarkan
kesimpulan atas terminologi yang terlanjur menggunakan frame negatif. Padahal kekuasaan, jabatan, amanah publik, apakah
sebagai presiden, gubernur, anggota dewan, ataupun penegak hukum seperti hakim
dan jaksa yang saat ini menjadi sorotan publik, tak lebih seperti lembaran
rupiah yang ada di genggaman tangan kita. Rupiah itu ketika berada ditangan
pemabuk, maka akan berubah menjadi botol-botol minuman keras. Rupiah ketika
berada ditangan penjudi, maka ia akan menjadi lembaran kupon judi. Pun demikian
rupiah itu ketika ada di tangan orang-orang shaleh, insya Allah ia akan menjadi
amal produktif. Rupiah-rupiah itu tak selamanya akan ada digenggaman karena
akan habis, tapi kemana lari rupiah itu ? adalah perkara lain yang akan
dipertanggungjawabkan. Kalau didunia saja uang Negara digunakan untuk pos yang
tidak sesuai dengan ketentuan hukum dapat dipidana, maka sama demikiannya dengan
rizki, amanah, juga taklif (beban) yang ditetapkan Allah pada kita di dunia,
akan dimintai pertanggungjawabannya. Seperti itu ibarat kekuasaan dan jabatan,
ia sekedar amanah! Tak lebih. Sehingga motivasi duniawi akan luluh dengan
sendirinya, seiring kesadaran akan adanya pertanggungjawaban dan pengadilan
akhirat nanti. Lalu bagaimana supaya kita dapat memiliki daya tahan (imunitas)
terhadap fitnah, boleh jadi jawabannya adalah motivasi dan tashawwur
kita harus sesuai dengan tujuan diberikannya kita kekuasaan, jabatan, atau amanah
itu oleh Allah SWT.

Dari Gedung yang
menjadi simbol Jawa Barat semoga harapan baru itu segera terwujudkan bagi
masyarakatnya, dan mereka-mereka yang sedang berusaha merubah keadaan
senantiasa dimudahkan. Insya Allah….

Catatan pinggir seorang kader PKS tentang Pilgub Jabar 2008.

April 15th, 2008 by pribadiunggul

Nyesek
"Berita terakhir dari Ketua DPD (TPPD) bahwa tidak tersedia dana untuk
uang transport saksi. Harap DPC konsolidasi. Bobar (Bogor Barat)
memerlukan Rp 16.7 jt utk kepentingan ini. Ana pribadi setelah kokoreh
di dapur dan tawakkal, bismillah menginfakkan Rp 1 jt. Ana mohon antum
semua melakukan hal serupa".

Itulah SMS yang saya terima ba’da Shubuh, Sabtu lalu (12 April), sehari
menjelang pilgub kemarin. Saya kenal persis si pengirim SMS itu, dan
tahu betul bahwa penghasilannya per bulan mungkin sekitar Rp 2 jt. Saya
juga tahu bahwa dia sekarang sedang nyicil kredit rumah. Kesediaannya
menginfakkan dana sebesar Rp 1 jt membuat mata saya berlinang; hampir
setengah dari penghasilan bulanannya. Teringatlah kisah sahabat yang
menginfakkan setengah dari hartanya.
Kalaulah itu hanya dilakukan sekali saja, mungkin tidak terlalu
mengherankan. Tetapi hanya 2 malam sebelumnya, semua grup halaqah pada
semua level dikumpulkan per DPC untuk melakukan liqo gabungan. Di sana
jelas disampaikan anjuran untuk siap berjuang melakukan jihad siyasi
dalam pilkada hari Ahad itu. Di samping kesiapan mobilisasi berjihad
dengan waktu, pemikiran dan tenaga, tentu infaq dengan maal merupakan
hal yang ditekankan dalam liqo gabungan itu. Taujih demi taujih tentang
keutamaan berjihad dengan harta, pembangkitan optimisme, dan keyakinan
bahwa kemenangan di jalan Allah itu bukan fungsi dari kebesaran harta
dan jumlah pasukan, mengiringi suasana khusyu yang menyelimuti semangat
menggeloran dalam hati setiap ikhwah yang hadir di sana.
"Berinfaqlah sampai antum jadi nyesek (sesak di dada)!", begitu kata
seorang ustadz ketika menerangkan ayat Al Qur’an: "Tidaklah kalian akan
sampai kepada kebajikan, sampai kalian menginfakkan apa-apa yang kalian
cintai!" Yang kita cintai itulah yang kalau kita infakkan membuat sesak
di dada. "Kalau antum infaq Rp 50 ribu tetapi dada antum masih tenang,
berarti itu belum menginfakkan apa yang antum cintai. Tambah lagi jadi
Rp 100 ribu, tambah lagi dan tambah lagi, sampai suatu saat antum merasa
nyesek di dada antum. Itulah tanda bahwa antum menginfakkan apa yang
antum cintai, yang antum merasa berat untuk melepasnya!"
Bisa dibayangkan, Kamis malam sudah infaq habis-habisan. Sabtu pagi,
muncul SMS lagi seperti di atas. Sebelumnya lagi, setiap hari Ahad
selama beberapa pekan diadakan Apel Siaga yang tentu saja ikhwah selalu
diminta untuk berinfaq. Makanya, sunduquna juyubuna.. betul-betul
dirasa. Kantong-kantong ikhwah betul-betul diperas habis. Sehingga kalau
diperas lagi, mungkin yang keluar adalah darah.
Sabtu itu saya membalas SMS tadi. Saya siapkan infaq dalam jumlah yang
cukup membuat dada saya sesak (ya Allah, limpahkanlah keikhlasan ke
dalam hati hamba..!). Tetapi saya yakin, rasa sesak saya itu tidaklah
sebesar rasa sesak ikhwah yang menginfakkan setengah dari penghasilannya
tadi. Dan saya bayangkan lagi, betapa banyak lagi ikhwah yang tingkat
penghasilannya lebih rendah daripada itu. Betapa sesaknya dada-dada
mereka ketika mereka merogoh kantong-kantong mereka untuk membiayai
pelaksanaan operasional segala tetek bengek yang perlu untuk pemilihan
gubernur ini.
Kalau tim sukses HADE mengatakan bahwa dana kampanye yang dikeluarkan
adalah Rp 800 juta totalnya, itu belum termasuk dana yang dikeluarkan
ikhwah di grass-root. Dana yang dikeluarkan mereka dengan ikhlas, yang
mereka tidak perlu tanda terima, tidak perlu ucapan terimakasih. Dana
yang ketika diberikan, tidak disertai harapan bahwa dana itu akan balik
kepada mereka dalam bentuk apa pun. Dana itulah yang langsung digunakan
oleh level-level struktur terbawah seperti DPD, DPC dan DPRa yang
langsung bergerak di tengah-tengah masyarakat.

Militansi Kader
Pagi ini di TV saya melihat seorang pengamat politik yang selama ini
biasanya berkomentar tidak terlalu simpati dengan PKS, mengakui bahwa
mesin politik (networking) PKS yang luar biasa yang menyebabkan
kemenangan pasangan HADE. Dan itu memang terlihat betul di lapangan.
Pilgub ini adalah pemilihan pertama yang saya alami secara langsung di
tanah air. Jadi ini adalah kali pertama juga, saya terlibat langsung
dengan segala aktivitas kader di level yang paling bawah yang terkait
dengan sebuah pemilihan. Dan apresiasi serta kekaguman pun lahir dari
diri saya.
Selama 4 pekan berturut-turut, ikhwah dikumpulkan per DPC dalam sebuah
Lailatul Katibah (mabit bersama) - kalau akhwat dikumpulkan dalam
Jalasah Ruhiyah sore hari. Kekuatan ruhiyah digenjot terus. Setelah
mendapatkan siraman ruhani, sholat lail, wirid dan dzikir bersama,
selesai Lailatul Katibah ini maka ikhwah disebar ke berbagai kelurahan
untuk melakukan Direct Selling, penjualan langsung door to door.
Subhanallah. Kadang kita sering menjadikan mabit sebagai alasan untuk
bisa tidur siang lebih panjang. Tapi ini setelah mabit, ikhwah langsung
menyebar, mengetuk pintu-pintu masyarakat. Memperkenalkan diri dengan
santun, memberikan sosialisasi tentang pilkada ini (well, ini mah
seharusnya tugas KPUD), dan baru minta ijin dengan baik-baik untuk
mengenalkan calon gubernur dan wakilnya kepada masyarakat. Ini dilakukan
pada 4 Ahad berturut-turut, mabit malamnya dan terus menyebar ber-direct
selling pada pagi harinya.
Ini tentunya di luar kegiatan rutin yang biasa dilakukan kader langsung
di tengah masyarakat seperti bakti sosial, pelayanan kesehatan, bazar
sembako murah, dsb.
Keikhlasan yang luar biasa. Tidak ada di benak para kader ini bahwa
ketika HADE menang, mereka akan diangkat menjadi tim tenaga ahli atau
akan mendapatkan tempat khusus di lingkaran dekat kekuasaan. Jabatan
tangan saja dari gubernur terpilih, mereka tidak akan dapatkan. Mereka
berjuang ikhlas karena yakin bahwa kebaikan pada masyarakat akan
tersebar dengan menangnya calon yang mereka usung.
Perjuangan kader tidak terhenti sampai di sana. Selama seminggu
terakhir, diadakan ronda malam bergiliran. Tujuannya sederhana: menjaga
agar atribut kampanye (stiker, spanduk, baliho) yang kita pasang, tidak
dirusak oleh pihak-pihak lain. Buat sebagian kita, melihat stiker
tertempel di tiang listrik tetapi kondisinya tersobek, mungkin
biasa-biasa saja. Tetapi bisa kita bayangkan, betapa pedihnya hati
ikhwah yang menempelkan stiker itu melihat hasil tempelannya itu dirusak
orang lain. Karena itu, semua atribut harus dijaga, dan ikhwah rela
mengorbankan tidur malamnya untuk itu.
Kemudian di malam terakhir, ronda malam juga diintensifkan dengan tujuan
mengawasi jangan sampai terjadi pembagian sembako atau amplop kepada
masyarakat di jam-jam terakhir menjelang pemilihan. Bisa diyakinkan,
para kepanduan kita akan berjaga dan siap meluncur apabila ada pelaporan
hal-hal seperti itu terjadi.
Perjuangan para akhwat juga luar biasa. Di Direct Selling, mereka yang
paling semangat. Waktu kampanye, mereka juga melaksanakan aksi kampanye
simpatik. Berdiri di perempatan-perempat an jalan, membagikan
bunga-bunga yang mereka rangkai sendiri dan menyapa setiap pengendara
kendaraan. Di hari pelaksanaan, mereka bergantian menyediakan konsumsi
untuk para saksi, meskipun tidak sedikit yang juga bertindak sebagai
saksi.
Melihat keikhlasan dan militansi kader dalam berjuang dan berinfaq
seperti di atas, mulut ini sempat bergumam: "Seandainya mereka yang
terpilih menjadi anggota legislatif atau duduk di jabatan eksekutif,
kemudian melupakan para kader, menjadi jauh dengan para kader, tidak
memiliki empati dan sensifitas terhadap kebutuhan kader, malah menjadi
kaya dengan memanfaatkan jabatannya, maka sungguh itu adalah sebuah
KEDZHALIMAN yang SANGAT BESAR!"
Lega
Saya memilih di kompleks perumahan tempat saya tinggal. Warganya tentu
relatif terpelajar dengan kondisi ekonomi yang juga relatif lebih stabil
dibanding masyarakat kebanyakan. Ditambah dengan aktifitas ke-Islaman
yang baik, tidak ada kekhawatiran akan terjadi kecurangan dalam proses
pelaksanaan pemilihan kemarin. Yang ada adalah memang rasa optimisme
bahwa HADE akan menang di kompleks itu.
Tidak hanya di kompleks perumahan tempat saya tinggal, ikhwah di Kota
Bogor tidak tanggung-tanggung memasang target perolehan suara 51% untuk
HADE. Di samping kontribusi untuk pilgub, ini juga sebagai batu loncatan
untuk pemilihan walikota di bulan Oktober mendatang. Jeblok di pilgub,
jangan harap akan bisa bangkit untuk pemilihan walikota, karena jeda
waktu yang kurang dari 6 bulan.
Ketika perolehan suara dihitung satu per satu di TPS tempat saya
memilih, pasangan HADE langsung melejit memperoleh suara terbanyak.
Sekitar 60%. TPS-TPS lain di kelurahan saya juga menunjukkan hal yang
sama.
Muncullah rasa lega menggantikan rasa sesak yang mungkin masih terasa
sampai malam sebelumnya. Lega karena perjuangan berat dan luar biasa
para kader, ternyata Allah SWT balas langsung di dunia ini juga (tanpa
melupakan harapan kita akan balasan yang lebih baik di akhirat
tentunya). Apalagi ketika pulang ke rumah usai menyaksikan perhitungan
suara di TPS, tayangan TV menyiarkan hasil quick-count pilgub itu. Semua
lembaga menyebutkan bahwa HADE unggul!
"Allahu Akbar Walillahilhamd! " Itu adalah bunyi SMS dari kader yang
kemarin mengatakan akan berinfaq Rp 1 juta itu. Perhitungan suara terus
dilakukan. Tersebar SMS dari Ketua DPD bahwa di Kota Bogor, HADE
berhasil mengumpulkan suara sebesar 52% dari hasil perhitungan semua
jumlah suara yang sah. "Allahu Akbar Walillahilhamd! "
Perasaan lega dan kekaguman terhadap perjuangan kader ternyata tidak
berhenti. Muncul SMS berupa instruksi: "Wajib bagi para kader untuk
mengawal kotak-kotak suara dari TPS ke PPS ke PPK". Kegiatan ronda malam
tetap dijalankan, tetapi sekarang bergiliran di PPK (Panita Pemilihan
tingkat Kecamatan) untuk menjaga kotak-kotak suara jangan sampai ada
yang mengganggu. Jadwal pun dibuat. Setiap grup halaqah wajib
mengirimkan 1 wakilnya pada jadwal yang sudah disepakati. "Kita akan
terus mengawal perolehan suara kita!".
Ngeri
Setelah suasana kelegaan dan euforia, dalam perenungan kemudian muncul
perasaan ngeri. Ngeri kalau kita tidak bisa mengemban amanah
kepemimpinan ini. Ngeri kalau janji-janji tidak bisa direalisasikan.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena berbagai hambatan praktis di
sistem birokrasi kita.
Pertanyaan-pertanya an sudah mulai mengarah. Bagaimana PKS dan PAN bisa
melakukan komunikasi politik dengan DPRD yang dikuasasi 3 raksasa:
Golkar, PDIP dan PPP, sehingga program-programnya tidak dijegal dan bisa
jalan? Bagaimana kalangan birokrasi di Pemda Provinsi bisa diarahkan
semuanya ke satu tujuan yang sama? Ibarat tubuh manusia, yang baru kita
menangkan adalah kepalanya. Sedangkan kaki, tangan dan anggota tubuh
lainnya? Sebuah pertanyaan yang besar.
Para kader PKS berjuang, memeras keringat dan kantong dana, karena
mereka yakin bahwa dengan memiliki amanah kepemimpinan, akan lebih
banyak lagi kebaikan yang bisa ditebarkan kepada masyarakat. Semoga
keyakinan dan harapan itu memang bisa terwujud.
Bogor, 14 April 2008
Sehari setelah Pilgub
-akm-
(dikutip dari milis keadilan4all)

Mengawali dengan buku dan prilaku yang baik ….

March 2nd, 2008 by pribadiunggul

Tak mudah rasanya mengawali perubahan di keluarga. Sebagai seorang
bungsu dari empat bersaudara, dengan ‘modal’ diri yang kurang
lebih mereka tahu, agaknya sulit berharap kata-kata yang mengalir
akan berbobot dalam panilaian mereka.

Sering kali saya merindu dalam lamunan, berandai “sepertinya
menyenangkan memiliki kakak yang ikut bersama dalam ‘proyek  besar
pendidikan (tarbiyah) umat’ ini. Walaupun sebetulnya usia saya
dalam tarbiyah terhitung belum lama, berawal di tahun 2004, semangat
seorang ikhwah yang tak jemu membawa saya mengenal tarbiyah.

Praktis visi kehidupan dalam diri berubah lewat masa 2004, pun
demikian dengan visi terhadap keluarga dan kakak-kakak saya.

Membiasakan diri untuk tiap bulan bertambah minimal satu koleksi buku
atau majalah yang tersimpan di rak buku kamar, menjadi komitmen saya
di pertengahan tahun 2005. Meskipun terkadang harus Mengatur kembali
pola penggunaan uang tiap bulannya. Buku-buku biasanya disusun
berdasarkan tiga jenis, pertama buku tentang hukum positif sesuai
dengan keilmuwan saya, kedua buku yang berhubungan dengan agama dan
motivasi, ketiga buku-buku diluar kedua kriteria sebelumnya. Terlihat
simple memang, karena jumlah buku yang belum terlalu banyak.

Dari buku-buku yang tersusun di kamar itu, terbesit dalam hati,
“kalaulah kata-kata kurang memiliki nilai bobot dikarenakan
penilaian pertama jatuh pada orang yang menyampaikannya, maka Buku
menjadi sarana tepat untuk menjembatani kekurangan itu”. Detik itu
yang menjadi target pertama saya adalah orang tua, dan waktu-waktu
ketika mereka berkunjung ke Bandung menjadi kesempatan yang tak
terlewatkan.

Biasanya buku-buku agama saya buat tergeletak di atas kasur, sambil
bergegas berangkat menuju kampus seolah tergesa-gesa sehingga tidak
sempat membereskan buku yang berserakan. Begitu pulang ke rumah dan
melihat kamar, buku-buku pun telah rapi tersusun kembali diraknya,
dan satu buku terlihat berada dalam genggaman Ibu atau ayah yang
sedang membacanya. Bahagia rasanya karena strategi saya berhasil,
bahkan tak jarang keduanya meminta izin meminjam buku-buku itu untuk
dibawa pulang ke Jakarta, dalam hati saya berbisik ‘tentu boleh
sekali’…

Buku-buku agama dan prilaku ana yang berusaha sebaik mungkin di
rumah, sepertinya menjadi sarana keberafiliasian mereka pada Islam,
dan benarlah kaidak fiqh dakwah yang memberi rambu “Al Islam Qabla
jama’ah” (Islam sebelum jama’ah). Pilkada Banten dan Pilkada
tanggerang kemarin bukti keberafiliasiaan mereka pada jama’ah,
ketika bekerislaman dalam diri telah terpupuk dan tersirami dengan
baik maka keberpihakan itu dengan sendirinya lahir. Semoga senantiasa
terpelihara tunas yang telah tumbuh itu.

Think Big…!!

February 24th, 2008 by pribadiunggul

Ustadz memulai dengan “Saya rasa antum tidak perlu taujih, visi misi sudah
jelas, kita hanya tinggal menunggu takdir baik kita di 2009”. Takdir bukanlah
sesuatu yang kita ciptakan, akan tetapi ia sesuatu yang kita ‘ikut’ ciptakan.
Antara kehendak kita yang kits harapkan bertemu dengan kehendak Allah.
2009 adalah tahun keajaiban bagi banyak orang, banyak orang2 diluar PKS
mengatakan 20% terlalu besar untuk PKS. Ikhwah di DPP bilang: “hanya keajaiban
yang buat kita bisa dapat 20%”, saya bilang: “maka keajaiban itu harus kita
wujudkan 2009 nanti. Bahkan, kalau 20% itu keajaiban, maka kita ingin melampaui
keajaiban itu. 20% adalah angka yang harus kita lampaui akhi.”
Kita adalah anak2 muda. Anak-anak muda ada untuk menciptakan keajaiban, partai
ini bertugas untuk ciptakan keajaiban. 20% adalah tugas sejarah untuk kita.
Umar ibn Khotthob pernah mengatakan: “setiap saya menghadapi masalah yang
rumit, saya panggil anak muda”

SBY pernah ditanya: “kenapa minta didukung PKS?” jawabnya: “saya butuh dukungan
moril dari PKS” –beliau tahu, bahwa kita ini tidak bisa diharapkan untuk
dukungan dana, karena PKS gak punya duit.

Tahun ‘70-an presiden Korsel Park Jung He ke aceh, dia lihat ayat Qur’an di
sebelah baiturrahman: “Innallaah laa yughoyyiru maa biqoumin, hatta yughoyyiru
maa bi anfusihim” –beliau bertanya; “artinya apa?”, “Tuhan tidak mengubah
keadaan suau kaum, sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri”. Jadilah
ayat itu dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan slogan resmi pemerintah;
“Tuhan tidak mengubah keadaan

korea

selatan, sampai rakyat

korea

yang mengubah keadaannya sendiri”. Padahal hanya satu ayat tapi luar biasa
hasilnya sekarang. Kalau kita karena kebanyakan ayat, ada 6666, jadi bingung
mau mulai dari mana.

Pendiri republik ini adalah anak muda, hanya saja pemuda yang memulai dan
melaksanakan reformasi tidak memimpin reformasi. Ini yang salah. Ini
menimbulkan ketidakpastian, maka inilah tanggungjawab kita untuk mengakhiri
ketidakpastian. Mereka yang mengisi era pasca orba adalah orang yang
menghabiskan 30 tahun hidupnya di orde baru, ini dalam bahasa manajemen disebut
dismatch/diskontinu .

Karena realitas berubah, tapi pikiran tidak berubah.

Gaya

kepemimpinan yang ditawarkan PKS adalah egaliter, demokratis. Dalam politik

indonesia

belakangan, parpol tidak tawarkan
sesuatu yang baru bagi masyarakat, sehingga Suharto bisa naik kembali menjadi
presiden

Indonesia

yang paling dicintai rakyatnya diantara presiden2 republik ini yang pernah ada.
Kami menyebut masa ini sebagai: kepemimpinan nasional yang disconnecting dengan
bangsanya sendiri.

Maka kami tegaskan, bahwa 20% ini bukanlah angka, tetapi simbol dari tekad.

Ketika Hasan al Banna memulai dakwahnya di Mesir, saat itu mesir masih dijajah
Inggris. Imam syahid mengawali dengan 7 sasaran dakwah, dan poin ke-7 adalah
Ustadziyatul ‘alam. Sebuah cita-cita besar. Bangsa yang sedang dijajah ingin
menjadi guru bagi peradaban manusia. Ini menghasilkan utopia, yang mana orang2
bersahaja saat itu percaya bahwa hal ini bisa diwujudkan, meskipun tidak pada
masa mereka.

Hampir seratus tahun kemudian, 80 tahun sekarang, IM menjadi jama’ah yang
legendaris karena cita-citanya jauh mendahului langkah kakinya. Karena orang
itu dipimpin bukan oleh seorang al Banna, tetapi oleh ide-ide besar.
Seorang guru pernah membawa mangkuk besar kemudian diisi batu-batu besar sambil
bertanya pada murid2nya: “apakah mangkuk ini sudah penuh” –sudah, jawab
muridnya. Kemudian sang guru mengisi mangkuk itu dengan pasir, dan pasir itu
memenuhi sela antara batu-batu besar, kemudian sang guru kembali
bertanya:“sudah penuhkah mangkuk ini?” –kali ini murid terpecah menjadi dua;
ada yang bilang sudah, ada yang bilang belum, meskipun tidak tahu dimana
belumnya. Kemudian guru itu menyiramkan air kedalam mangkuk, dan air itupun
membasahi pasir dan memenuhi mangkuk itu sekali lagi.

Kemudian guru itu mengambil mangkuk yang baru, dan diisinya dengan pasir,
sejenak kemudian ia berkata: “apakah mangkuk ini masih muat untuk batu2 besar
ini?”-spontan para murid mengatakan :”tidak”, -“maka seperti itulah kepala
kita, jika kita isi dengan hal-hal yang kecil, maka ia tidak akan pernah
sanggup diisi oleh ide-ide besar. Fikirkanlah ide-ide besar, maka hal yang
kecil akan termuat dengan sendirinya.”

Lalu kenapa PKS harus diiberi kesempatan memimpin republik ini?

Jawabannya tidak ada kecuali karena satu hal: “Keadilan” ; karena jika kita
sudah melihat para pemimpin lain sudah pernah gagal, tolong beri satu
kesempatan pada kader-kader PKS untuk memimpin bangsa ini dan ikut gagal bersamanya.
Tapi jika kita bisa mengubah itu? Kita tidak butuh terima kasih dari

Indonesia

.
Islam dan keIndonesiaan harus menjadi satu, setiap jengkal wilayah teritorial
republik ini adalah lahan dakwah kita. Islam dan keIndonesiaan ibarat isi dan
kulit, ibarat makna dan kata.
Ini adalah cerita kita sekarang, cerita bagaimana kita mulai sejarah kemenangan
dan menutupnya, cerita tentang bagaimana PKS menyiasati semua keterbatasannya.
Memenangkan pemilu 2009 adalah tugas sejarah bagi PKS.
Jika kita membayangkan layar komputer atau display HP di masa depan. Fitur
apakah yang kita inginkan terpampang sebagai fitur utama? Jika Layar komputer
dan display HP itu adalah

indonesia

,
maka kita ingin PKS menjadi fitur utamanya.

PKS adalah fitur masa depan

Indonesia

.

Hal ini dikarenakan 2 hal: Ide besar dan great performance. Semua ini ada di
PKS. Dan partai apapun yang mampu tawarkan solusi bagi

Indonesia

akan
memimpin republik ini.
Banyak orang makan, sampah akan banyak, sampah adalah problem. Partai yang bisa
memberikan solusi untuk sampah: adalah masa depan. 230 juta penduduk

indonesia

dan
terus bertambah, membutuhkan lapangan kerja, mengakibatkan pengangguran. Partai
yang bisa memberikan solusi untuk pengangguran: adalah masa depan.

PKS adalah simbol dari ide-ide besar dan kinerja-kinerja besar.

Soekarno mampu memimpin bangsa ini 20 tahun. Kenapa? Karena legendaris,
berfikir tidak seperti orang lain berfikir, Soekarno memikirkan revolusi.
Soeharto 32 tahun? Kenapa? Karena ide besar itu bernama pembangunan. Kenapa para
Presiden republik ini yang menjabat setelah reformasi hanya bertahan 12-16
bulan? Karena mereka berfikiran pendek dan tak ada ”narasi besar” dalam fikiran
mereka.

Penafsiran tunggal bahwa reformasi adalah antitesis dari orde baru adalah
kesalahan. Orde lama dan baru memiliki kekurangan, sebagaimana mereka juga
memiliki kebaikan. PKS adalah matchmaker, PKS mensintesa kebaikan-kebaikan
periode sebelum reformasi. Kita mensintesa demokrasi dan kesejahteraan.
Demokrasi orde lama yang mengeliminsai kesejahteraan, dan kesejahteraan orde
baru yang mengeliminasi demokrasi.

Jika PKS bisa mewujudkan sintesa ini,Maka Kita adalah Masa Depan

PKS menggabungkan orde lama yang adil tapi tidak makmur, dan orde baru yang
sejahtera tetapi tidak demokratis. Maka nama partai ini adalah Partai Keadilan
Sejahtera. Jika sekarang kita membuat program “PKS mendengar”, sudah saatnya
kita memulai ujung dari program ini, yaitu “PKS bicara”

Muhammad Iqbal dalam sebuah puisinya berkata:
Tuhan,
Ajarilah kami kembali ajaran tentang cinta.
Biar kami bisa kumpulkan lidi-lidi yang berserakan ini menjadi satu

Kita adalah simbol perekat yang akan memimpin reformasi.

Lidi kita adalah lidi yang bersih, tapi belum mampu bersihkan kotoran. Kita
harus bersatu dengan lidi lain yang meskipun masih kotor tapi kita membentuk
sapu lidi bersama. Itulah yang dituntut dari PKS sebenarnya, tidak hanya
bersih, tetapi juga membersihkan. Kenapa reformasi jalan di tempat? Karena
semua orang yang punya potensi tidak tahu dimana tempatnya.

KPK anggarannya 78 M setahun, tapi uang yang dikembalikan ke pemerintah dari
korupsi setahun 24 M. Kasus BI adalah uang 100 M, tetapi anggaran untuk
mengembalikan kepercayaan pasar dan menstabilkan pasar akibat skandal itu yang
harus dikeluarkan BI adalah 5,5 M $. Padahal 100 M itu hanya 10 juta $ paling
banyak. Ini cara membunuh nyamuk dengan meriam.

Kita selalu menjadi yang pertama di tempat bencana, tapi sendirian disana
tidaklah cukup, kita harus menjadi unsur perekat yang membuat seluruh warga

indonesia

peduli, itu baru cukup.

Berkumpul tanpa dipimpin itu seperti kita hadir dalam sebuah dauroh, tempat
sudah penuh, tapi tidak ada yang membuka dan memimpin acara, tak ada yang
dikerjakan bersama, semua hanya datang dan berbicara diantara mereka tentang
kebaikan dan kerja bersama. Perkumpulan tersebut adalah sia-sia.

Maka matchmaker ini harus dibarengi dengan satu kemampuan lain: Inovator

Inovator adalah berfikir lebih cepat. Fikiran kita mendahului langkah kita dan
langkah orang lain, bahkan langkah semua orang di republik ini.

Seorang ulama dakwah menyatakan:
“Jika satu jama’ah itu hanya dipenuhi oleh

massa

yang banyak, maka jama’ah itu akan
punya jangkauan tangan dan kaki yang panjang tapi jangkauan mata yang pendek,
sehingga sering tersandung dan jatuhlah jama’ah itu. Sebaliknya jika sebuah
jama’ah itu hanya punya

massa

yang sedikit, meskipun banyak intelektual maka jama’ah itu akan memiliki
jangkauan mata yang luas tetapi jangkauan tangan yang pendek, sehingga hanya
bisa berangan-angan tapi kemudian bersedih”

Maka Ibnu Qayyim mengatakan tidak boleh melihat akhwat, karena itu akan
mewariskan kesedihan. Pandangan mata akan diikuti hasrat, tetapi hasrat diikuti
ketidakberdayaan. Maka ia hanya akan mewariskan kesedihan.
Kita memiliki semua yang dibutuhkan masyarakat;

massa

besar, tertib, santun, militansi, visi
misi, kesetiaan, ketaatan, semua.

Mengapa Zhilal itu legendaris? Karena ia mengembalikan makna wahyu, bahwa
al-Qur’an diturunkan ayat demi ayat untuk menjawab setiap dimensi kemanusiaan
yang terjadi dikalangan sahabat. Bahwa wahyu selalu mendahului langkah kaki
para sahabat.

Dua tahun sebelum fathu makkah, Allah sudah menurunkan ayat: “inna fatahna …”
–jika sampai masanya kalian akan masuk baitullah dengan aman. DR. Said Ramadhon
al Buthi dalam Fiqhu Shirah menjelaskan bahwa pada saat ayat tersebut
diturunkan, mayoritas sahabat tidak tahu apa arti dari ayat tersebut. Sampai
mereka mengalaminya 2 tahun kemudian dan tersadar bahwa Al-Qur’an telah
mendahului mereka.

Perang Uhud sudah diramalkan 1 tahun sebelumnya pada surah Al-Anfaal, Allah
sudah memperingatkan kaum muslimin agar tidak tergoda. Kenyataannya setelah
perang itu benar-benar terjadi dan menyebabkan Hamzah bin Abdul Mutholib –paman
nabi, Mush’ab bin Umair –sahabat yang sangat dicintai Nabi, dan 70 sahabat syahid.
Allah tidak kemudian menghinakan, tetapi turun ayat “laa khoufu, walaa
tahzanu…”

PKS akan menjadi inovator hingga nanti di republik ini masyarakat non-muslim
akan mengatakan: “Perbedaan agama sudah tidak relevan sekarang”, dan masyarakat
Muslim akan mengatakan: “Memang andalah yang menampilkan Wajah Islam dengan
benar”

7 Kata kunci strategi pemenangan pemilu 2009 tidak perlu dihafal sebagaimana
antum hafalkan al-Fatihah. Hanya butuh keyakinan & senyuman, kemudian
rasakan aura kemenangan dan sebarkan itu kepada para kader dakwah.

Itulah yang dirasakan para sahabat yang berperang bersama Kholid bin Walid,
mereka tidak pernah bertanya strategi, taktik, tahapan seperti apa. Berperang
bersama akh kholid saja itu sudah cukup. Begitulah semangat dengan keyakinan.

Khalid bin Walid ketika membebaskan Palestina diajak berunding oleh para
pendeta, pendeta itu tahu bahwa mengalahkan Khalid dalam peperangan adalah
mustahil, maka mereka berniat meracun Khalid bin Walid. Khalid tahu persis itu
yang para pendeta itu lakukan, akan tetapi Khalid tetap meminum air beracun itu
untuk mengatakan pada musuh Allah itu: ”Dengan izin Allah, racun ini tidak akan
membunuhku”, sambil membaca do’a yang setiap hari kita baca dalam ma’tsurat:
“Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi walaa fis samaa’
wahuwas samii’ul ‘aliim”

Di Afrika, semua rusa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika
mereka tidak berlari lebih kencang dari singa, maka mereka akan mati dimakan.
Di Afrika, semua singa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran, bahwa jika
mereka tidak berlari lebih cepat dari rusa, maka mereka akan mati kelaparan.
Di Indonesia, semua petinggi partai lain bangun di pagi hari dengan satu
kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat dari PKS, maka
konstituen mereka akan habis, dan PKS akan menang di 2009.
Kita telah menyampaikan pesan pada mereka melalui ratusan pilkada di daerah,
bahwa setiap kita menang, kita memperolehnya dengan sarana yang pas-pasan. Dan
ketika mereka menang, mereka membayarnya dengan harga yang terlalu mahal. Pesan
itu telah jelas di kepala mereka: “Pertarungan jangka panjang melawan PKS bukan
suatu pekerjaan yang mudah”. Dalam keadaan miskin saja mereka harus setengah
mati kalahkan kita.

Sekarang ini pesan-pesan ini telah sampai, pasca mukernas bahkan orang partai
lain sudah berfikir: “PKS sudah masuk kandang kita”. Top ten media adalah
Mukernas, 5 dari narasumber terbanyak yang dihubungi selama pekan ini oleh
media adalah PKS.

Dan ini semua hanya ‘isyarat pendahuluan’.

Sejarah seperti apa yang ingin kita tulis? Mari berimajinasi, saat 20, 30, 40
tahun lagi guru SD IT bercerita tentang sejarah hari ini kepada cucu-cucu kita,
“dahulu kala.. ada sebuah partai..”. Maka ending cerita ini jelas, bahwa 20%
adalah tugas sejarah untuk kita.

Sepanjang tahun saya selalu ditanya oleh Suara Pembaharuan dengan pertanyaan
yang sama: “Apakah anda ingin membuat partai lagi jika PKS tidak lolos ET?”,
maka saya menjawab: “jika 1999 kemarin kita tidak lolos kemudian kita membentuk
PKS, maka 2004 kami akan membentuk Partai Keadilan dan Sejahtera dan
Kebahagiaan, dan jika 2009 kita masih tidak lolos juga, kami akan membentuk
Partai Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan dan Kehormatan”

Wa antum a’lamu inkuntum mukminiin, kemudian pertanyaan itu sekarang berubah:
“Apakah PKS siap memimpin republik ini?”… kita menjawab: “20% adalah cerita
yang kita buat hari ini” ■

Diambil dari milis pks-jogja
Ditulis oleh : Imam Manggalya (Ketua BEM KU UGM 05-06)

2007, 2008,…., hingga maut menjemput

December 31st, 2007 by pribadiunggul

 

JALANNYA
TAK SEINDAH SENTUHAN MATA,
BUAHNYA TAK TERBAYANG OLEH
MATA”…….

Akan tahukah mata yang melangkah pada debu yang
pasti kan hinggap. Mengharap senang dalam berjuang bagai merindu
rembulan di siang hari. Jalannya tak seindah sentuhan mata pangkalnya
jauh ujungnya belum tiba
(Saujana)


——————————————————————————————————
bahkan
ketika rambut ini memutih dibuatnya….
bahkan ketika membuat ku
merasa terasing….
menjadikan orang lain merasa aneh
dengannya…
harap ku moga ia tetap mengalir dan membuncah dalam
diri.
meski tak mudah membuatnya senantiasa hadir bagi diri…

Ya
Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang
berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian
kami,….(QS 3:147)

2007, 2008,…….hingga maut
menjemput…kuharap ia tetap hadir, illa wa antum
muslimun..insyaa..Allah Istiqamah madal hayah

 

“Sakinah” itu…! Bersyukur!

November 30th, 2007 by pribadiunggul

Tepat 29 november kemarin
usia ini bertambah.., kalau sebagian orang berfikir itu kebahagian,
boleh jadi ya..kalau sebagian lain mengatakan itu kesedihan, itu pun
tidak salah..bagi ku usia hanya hitungan waktu yang dikenal manusia
saja, ia hanya menjadi salah satu momentum muhasabah dalam setingan
episode hidup kita. Teringat sebuah cerita

Suatu hari seorang
ayah dari keluarga yang amat kaya raya mengajak putranya kesuatu desa
untuk memperlihatkan betapa miskinnya penduduk yang tinggal
disekitarnya. Mereka tinggal dan menginap

beberapa hari dirumah seorang petani yang menurut mereka paling
miskin. Pada saat kembali sang ayah bertanya kepada putranya.
“Bagaimana dengan kunjungan kita?” Sangat menyenangkan ayah !
“Kau lihatkan betapa miskinnya mereka?”. sahut sang ayah! “Coba
ceritakan pelajaran apa yang kau dapat!” Tanya sang ayah. Kemudian
anak menjawab “saya lihat semua! kita punya satu ekor kuda,
sedangkan mereka punya empat ekor kuda. Kita punya kolam renang
diujung taman, dan mereka mempunyai telaga berair jernih yang tak
berujung…kita mempunyai lampu taman import di taman rumah dan
mereka memiliki semua bintang dilangit. Padangan teras kita hanya
sampai ujung halaman, dan mereka bisa memandang sampai ke kaki
langit. Kita punya sepetak halaman, dan mereka memiliki lahan yang
tak berujung..kita punya pembantu yang melayani kita, tetapi mereka
justru melayani orang lain. Ketika kita harus membeli semua makanan,
mereka cukup dengan menanam saja. Ketika kita membangun tembok tinggi
untuk melindungi harta kita, mereka punyak banyak kawan yang
melindungi mereka.

Sang ayah terdiam seribu
bahasa..

Si anak menambahkan,
“terimakasih ayah, kau telah memperlihatkan betapa miskinnya kita!

Al-Fath ayat 4.

Dia-lah yang
telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya
keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah
ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi
 dan adalah Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Sakinah’
itu bersyukur pada Allah…bersyukur pada Allah hakikatnya kita
sedang Dzikrullah. Jadi dibuatnya kita ’sakinah’ dengan harta,
pasangan hidup (istri), dan anak yang kita banggakan dan cintai, pada dasarnya lahir ketika
kita berupaya mencari sakinah itu dengan dzikrullah.

Optimalisasi Peran Dakwah Kampus Sebagai Persemaian Unggul, dari Sebuah Komunitas Terbatas

October 31st, 2007 by pribadiunggul

Kampus
sebagai entitas yang mewakili kata intelektualitas dan pemuda sekaligus, merupakan bagian dari masyarakat Indonesia,
yang memiliki nilai strategis dan menjadi motor perubahan dari setiap kisah
perubahan yang dilalui bangsa ini. Karenanya tidak heran jika dahulu, Soekarno
pernah berkata “Berikan aku 10 pemuda yang berkualitas cukuplah untuk memimpin
dunia”. Pun didalam Majmu’atu rasa’il-nya Asy-Syahid Hasan Al Banna, secara khusus membahas peranan pemuda,
khususnya para mahasiswa dan pelajar dalam tubuh gerakannya, maupun dalam
peranannya bagi umat, yang tergambar dalam kata-kata beliau “Umat harus kembali
bangkit. Namun, Asset umat untuk kembali bangkit telah terkuras habis ! Kecuali
pemuda”. Maka kemudian jadilah kampus sebagai lahan subur atau tempat
berkubangnya berbagai macam pemikiran, baik itu bersifat destruktif ataupun
yang bersifat fositif.

Kenyataan
hari ini menunjukan polah dan fikrah yang bersifat destruktif itu
bergerak cepat, mengikuti perubahan kondisi yang melingkupinya. Tampaknya
kemampuan membaca ‘tren konsumen’, meyebabkan ‘jualan’ mereka cukup laku
dipasaran. Menjadi tantangan bagi dakwah kampus untuk mampu membaca perubahan
dilapangan agar tujuan dakwah kampus dapat tercapai. Tentunya dengan tetap
memegang dhawabit yang ada, sehingga terjaga asholah-nya. Artinya mampu
fleksibel ditengah perubahan dengan tetap memelihara asholah dakwah, menjadi
tantangan yang akan dihadapi dakwah kampus kedepan. Setidaknya ada beberapa
gagasan untuk menata kembali peran dakwah kampus dalam menghadapi perubahan
diluar yang semakin cepat, diantaranya :

1. Penataan
dakwah secara struktural dan personal

Penataan dakwah
secara struktural sangat berkaitan dengan kebutuhan dan semakin luasnya dakwah
memasuki wilayah-wilayah baru yang semakin kompleks. Karenanya upaya perapihan
struktur dakwah dan sinergisitas sayap-sayap dakwah akan memudahkan dalam
merespon kebutuhan dakwah dilapangan serta proses evaluasinya, tentunya jalur
konsolidasi dan koordinasi telah terbangun rapih pula. Yang pada akhirnya akan
membuat dakwah semakin terbuka, dalam hal ini profesionalisme dan akuntabilitas
wajihah dakwah menjadi tolak ukurnya.

Penataan dakwah
secara personal, menjadi bagian yang sering diakhirkan dalam pembahasan dakwah
kampus. Padahal sesungguhnya solid structural senantiasa bersisikan solid
personal. Layaknya bangunan, ketika salah satu komponen bangunan itu tidak
terkondisikan dengan baik maka boleh jadi rusaklah bangunan tersebut. Proyeksi
kader dakwah secara tepat berdasarkan kompetensi menjadi bagian darinya..
Penataan dakwah secara personal ini akan menghasilkan sebuah kapasitas dan
keikhlasan dalam ber-‘amal jama’i
yang dinamis. Dengan ber’amal jama’i, maka menjadi kokohlah bangunan dakwah
kampus

2. Amal
dakwah kampus yang seimbang dan sinergis

Meyeimbangkan
‘Tawazunitas’ Amal-amal dakwah antara khidami, dakwiyah, fanniyah, siyasiyah,
dan tak lupa amal adabiyah adalah kebutuhan. Karena tertinggalnya salah satu
amal dakwah berarti adanya kepincangan gerak yang harus segera diperbaiki.
Karakteristik Islam salah satunya adalah Tawazun dan adil, artinya porsinya
harus ditempatkan pada tempat yang semesitnya, bukan kemudian menganggap amal
yang satu tidak penting sehingga dilupakan. Istilah spesialitas amal dakwah
tertentu saja, seringkali memunculkan persepsi yang salah ditengah kader
kampus, sehingga muncul istilah kader siyasi, kader syi’ar atau ‘ilmi. Pada
akhirnya berakibat pada tidak berkembangnya kader itu sendiri, karena terkotak pada salah satu amal dakwah tertentu
saja. Semestinya kader dakwah kampus memiliki pemahaman dan kapasitas yang
integral (utuh) akan peran dan urgensi tiap amal dakwah tersebut.

3. kreativitas
dalam kaderisasi dan syi’ar dakwah.

Keberlangsungan
dakwah ini, bergantung pada berputarnya roda kaderisasi. Kaderisasi ibarat
nafas bagi dakwah, ia menjadi Iron
stock/Asset
dakwah. Kualitas dan kuantitas saat ini bukan lagi menjadi
dikotomi, tetapi harus sudah menjadi kesatuan yang utuh. Kita butuh jumlah
kader yang banyak demi percepatan dakwah, tapi juga kita butuh kader yang
berkualitas, yang siap memikul beban dakwah.

Mengkader,
khususnya tahap rekruitmen termasuk syi’ar dakwah, membutuhkan kreativitas baru
dari ADK, dengan ide-ide yang lebih fresh, unik dan menarik, serta mampu
melihat kondisi kultur kampus masing-masing. Berdakwah ibarat ‘menjual produk’,
dan sesungguhnya produk yang kita tawarkan sudah pasti bagus, tetapi bagaimana
mengemasnya lebih menarik agar mereka tertarik untuk ‘membeli’ produk yang kita
tawarkan.

4. Penguatan kapasitas dan kapabilitas ADK

Memunculkan Syakhshiyyah barizah
(individu berpengaruh) ditengah-tengah kampus, menuntut kader yang
mumpuni, dari sisi Quwatu ruhiyah, kematangan idiologi (pemikiran), wawasan
yang luas, dan derivat-derivat lain dari profil kader 2009. Kerenanya setiap
upaya, baik itu berupa kesadaran kader untuk mentarqiyah diri, atau pun by
design melalui system yang ada dikampus dalam mencetak kader-kader yang mumpuni
menjadi tuntutan agar kader dakwah siap menghadapi percepatan dakwah, karena
sesungguhnya lingkaran lain diluar kita pun bergerak cepat.

5. Memperluas
jaringan dakwah dan mengupayakan kemandirian pendanaan dakwah

Dalam
dunia bisnis ada istilah ‘orang yang menguasai jaringan (networking) adalah pemenang’.
Dalam kacama mata dakwah kita tau bagaimana Rasulullah membangun link dakwahnya
dengan mengutus mush’ab bin umair menuju yatsrib, atau ketika beliau menuju
thaif, meskipun disana beliau tidak mendapatkan sambutan yang baik. tetapi
sejarah menunjukan bahwa thaif menjadi salah satu wilayah yang tidak mengalami
pergolakan pasca wafatnya Rasulullah SAW.

Dakwah
kampus harus menjadi elemen perekat setiap unsure internal dan eksternal kampus
yang bermuatan fositif dalam menunjang dakwah, sehingga cita-cita perbaikan
umat dalam skala masyarakat kampus menjadi semakin dekat.

Yang terakhir
adalah mengupayakan kemandirian pendanaan dakwah kampus. Merancang hal itu
bukan hal tidak mungkin. Kedepan diharapkan pendanaan dakwah kampus sumber
utamanya adalah kemandiriannya dalam fund raising. Kebutuhan masyarakat
kampus menjadi peluang bisnis dan usaha yang dari sana kita  mengisi pendanaan dakwah. Bukankah pintu rizki niaga ini masih jarang kita ketuk?

6. Link and
Match dakwah kampus dan pasca kampus (profesi)..

Salah
satu tujuan dakwah kampus adalah suplai alumni yang berafiliasikan pada Islam.
Kampus bukanlah medan sendiri yang terpisah, tetapi ia merupakan penghubung
antara fase satu dan fase lainnya, ia menjadi tempat menyiapkan diri dan tempat
mengisi perbekalan, juga tempat bagi kita untuk mengasah daya ‘imun’ kita.
Menyiapkan pemahaman ADK (Aktivis Dakwah Kampus) akan tantangan dakwah pasca
kampus serta membentuk/ membangun jaringan ADK alumni, akan sangat membantu
ikhwah yang baru keluar dari kampus dalam menyesuaikan diri dengan medan
barunya.

Seperti nasihat yang disampaikan oleh Fahri Hamzah
SE., seorang mantan aktivis dakwah kampus, “Saya ingin menegaskan agar kita
menggunakan waktu kita di kampus sebagai waktu yang disiapkan Allah kepada kita
untuk belajar dan mengalami masa-masa muda yang penuh semangat dan heroisme.
Waktu itu harus digunakan lebih optimal. Di kampuslah kita memiliki kesempatan
untuk berfikir mau jadi apa kelak. Ingin berperan apa dalam da’wah ini dan
bagaimana mengelola diri agar cira-cira da’wah itu tercapai. Kalau ada orang
yang ingin menjadi orang kaya agar kontribusi da’wahnya dalam bidang maal
(harta) bisa optimal. Rancanglah dari sekarang! Belajarlah untuk membuka usaha.
Kampus bisa dijadikan tempat latihan berbisnis kecil-kecilan. Entah itu
fotokopi, bisnis buku, pakaian dan sebagainya. Dari sini tangga-tangga menuju
ke sana mulai tersusun rapi, lebih tertata dan lebih terencana. Semua itu tentu
saja tidak akan tercapai kecuali dengan pertolongan Allah, namun alangkah lebih
baiknya jika itu semua direncanakan.”